Selasa, 22 Desember 2020

cerpen " PERSAHABATAN ADALAH SEGALANYA TAPI CINTA ADALAH KARUNIA"

PERSAHABATAN ADALAH SEGALANYA
 TAPI CINTA ADALAH KARUNIA 
       
          Saat bersahabat dengan lawan jenis, jangan melibatkan perasaan (terlalu sentimental/ge er), jangan menjadikan pujian dan uluran tangan sahabat sebagai wujud rasa cinta sahabat tersebut terhadap kita, cukup menganggap pujian dan pertolongan tersebut sebagai perhatian dan pengakuan seorang sahabat. Melibatkan perasaan hanya akan melukai diri sendiri dan orang lain, sehingga akan menutup pintu persahabatan kita dengan lawan jenis.



         Pada Sore itu dikota metropolitan cuaca tidak bersahabat dan cerah saat ini mengingatkanku pada sahabatku yang dulu basah kuyub pada saat pulang sekolah kehujanan. aku mengingatkan Kedua sosok berseragam putih abu itu masih bersusah payah mengolah sepeda motornya di tengah jalan mengabaikan suhu yang membuat siapapun akan menggigil kedinginan, seharusnya laki-laki yang mengolah sepeda motornyanya itu mempercepat olahan pedalnya agar mereka segera sampai rumah kemudian bisa menghabiskan sore dengan tidur di selimuti dan secangkir kopi hangat. 

                Alex mengolah pedal sepeda motornyanya lebih kuat, “Ana, kamu pegangan aku yang kuat ya. Sebentar lagi hujan, kalau kita nggak cepet-cepet nanti bisa kehujanan.” Gadis yang bernama Ana itu membonceng Alex dibelakang mengangguk kecil, “Iya, lex” jawabnya setengah berteriak. Ana menundukan kepalanya, berlindung dibalik punggung Alex ketika tiupan angin terasa membuat bulu kuduknya berdiri, tidak lama kemudian rintikan gerimis sudah mulai turun perlahan membasahi daratan aspal menjadi berwarna lebih gelap. Ana merapatkan jaketnya sesaat rintikan gerimis mulai berubah menjadi hujan, “Lex, kita berteduh dulu yuk! Hujannya bakalan tambah deres deh. 

               Itu ada warung, kita bisa beli makanan dulu sekalian nunggu hujanya reda.” kata Ana, dia berteriak dan berharap suaranya cukup didengar oleh telinga Alex, karena bunyi deruan angin dan rintikan hujan menimbulkan suara yang cukup berisik. Alex tidak menjawab tetapi telinganya berhasil menangkap apa yang diteriakan Ana, dia membelokan sepedanya kearah warung dengan teras luas kemudian duduk di salah satu kursi kayu yang berjajar. 
                
            Suasana warung itu tidak ramai hanya ada beberapa orang yang kelihatannya tampak sedang berteduh juga ditemani dengan segelas minuman yang terlihat mengepulkan asap kecil dari cangkirnya. Ana melepaskan jaketnya dan menggosok kedua telapak tangannya, dia tersenyum kepada sosok ibu yang berdiri menghampiri mereka dengan senyum ramah, “Bu, kita pesen teh anget dua sama mie rebus ya.” Ibu itu mengangguk kemudian berbalik dan meninggalkan Alex dan Ana. “Kamu ngabarin ibu kamu dulu Ana, nanti tante Lena nyariin kamu.” Kata Alex, dengan suara yang terdengar menasihati. Laki-laki ini adalah sahabat Ana, mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA. 

                Alex adalah satu-satunya laki-laki yang dapat mengerti Ana. 2 tahun bersama gadis itu dengan secara otomatis membuat memorinya menyimpan dan menghafal setiap hal dan segala sesuatu yang tidak disukai dan disukai Ana. Alex selalu menyukai kebersamaannya bersama sahabat perempuannya itu. Merasa sangat tenang dan dia tidak tahu apa ada definisi lain selain kata bahagia untuk menggambarkan saat-saat ia bersama Ana. “Udah kok Lex.” Jawab Ana, dia melipat tangannya di atas meja dan merubah posisi duduknya sedikit bergeser, “Eh kamu tahu nggak kemarin Ikhsan nembak aku.” Alex memutar wajahnya, Beneran? terus gimana? Kalian jadian? tanya Alex tidak dapat menutupi rasa kagetnya. Ini adalah keempat kalinya Alex mendengar pernyataan yang sama dari Ana. Sejak tahun 2016 mereka masuk SMA entah sudah ada berapa laki-laki yang menembak sahabatnya itu.             
                Ana yang pendek, berkulit hitam manis, Ana juga memiliki otak yang cerdas, beberapa bulan yang lalu ia baru saja menjuarai lomba debat Bahasa Inggris antar SMA di kota metropolitan, semua yang ada pada gadis ini memiliki nilai tambah dimata teman-teman laki-laki dan para kakak kelasnya. Pembawaannya yang ramah, dan ceplas-ceplos membuatnya dikagumi oleh banyak teman-temannya. Gadis ini bukan tipe gadis yang feminim, bahkan bisa dikatakan cuek tidak terlalu mementingkan pakaian yang ia kenakan, baju kaos dan celana jins adalah pakaian kesukaannya. Simpel. “Menurut kamu Ikhsan gimana Alex, dia kan temen maen bola kamu?” Alex menghela napasnya, da tersenyum tipis. “Dia baik, pinter juga, tapi kalo masalah keren sama cakep ya cakepan aku donk” Ana terkekeh, dia mengibaskan tangannya di depan wajah, “Alah kamu. Dasar narsis banget sih” Alex tertawa, “Kamu suka nggak sama dia Na?” tanya Alex, kali ini suara laki-laki itu terdengar cukup serius dan tenang.     

                Ana berdehem pelan, dia baru saja hendak memberikan argumennya tetapi sang ibu datang mengantarkan pesanannya. Ana mengucapkan terimakasih sebelum ibu itu berlalu, dia mengaduk teh hangatnya dan menyeruputnya sedikit. “Aku…” suara Ana terhenti menggantung. Ada sedikit keraguan saat ia hendak melanjutkannya. “Aku nggak tahu Lex, kamu kan tahu sendiri selama ini banyak yang nembak aku tapi selalu aku tolak. Pacaran itu emang buat apasih. Kayanya gak penting juga kan. Umur aku juga baru mau tujuh belas tahun. Apa kata mama aku coba nanti, kecil-kecil udah pacaran tapi kalo menurut aku umur tujuh belas udah bisa pacarankan? Dan aku lihat teman yang lain yang seminggu kemarin baru jadian sama cowoknya eh udah putus dan dia nangis-nangis gitu, Kan kurang kerjaan banget kan?” Alex tertawa kecil, “Hahaha kamu tuh ya Na, yang nembak kamu itu orangnya keren-keren semua ya. Tapi, kok kamunya malah nolak mereka semua sih heran deh kamu.” Ana mengunyah mienya, dia ikut tertawa. 
            
                “Alex sahabatku yang paling cakep sedunia, aku masih kecil belum mau pacaran Pedekate, tembak, jadian, manis-manisan gitu, kemana-mana mesti berdua besoknya tiba-tiba cemburu, berantem, putus deh Pacaran itu cuma buang-buang waktu ja Alex” Alex mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan argumen Ana. Ada rasa tenang yang selalu dirasakan Alex setelah kekagetannya berangsur menghilang, dia tidak tahu ketenangan untuk apa. Hanya saja Alex saat ini merasa ingin tersenyum lebar, “Bagus deh Na, tunggu nanti dewasaan dikit ya.” Ana tersenyum” ia Lex ayo hujanya udah reda kita lanjut jalan yok,” Alex “ayo”. 




SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEMANKU JATUH CINTA DENGAN MURID BARU.

 TEMANKU JATUH CINTA DENGAN MURID BARU. Hari ini adalah hari pertama Risa  masuk sekolah baru SMP Negeri 1 Labe Racang Dali. Risa pindah sek...